Sanggar Seni Madhangkara di Jaten, Karanganyar, menggelar pelatihan wayang siluet sepanjang Oktober 2026 untuk menyambut Hari Wayang pada November. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 50 peserta dari lingkungan sekitar sanggar sebagai upaya mengenalkan seni tradisi kepada generasi muda.
- Pelatihan wayang siluet di Sanggar Seni Madhangkara, Jaten, Karanganyar, sebagai bagian dari upaya mengenalkan seni tradisi kepada generasi muda (foto: dokumentasi Kasan Ngali
KARANGANYAR — Menyambut peringatan Hari Wayang pada November 2026, Sanggar Seni Madhangkara di Jaten, Karanganyar, menggelar pelatihan wayang siluet sepanjang Oktober. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 50 peserta dari lingkungan sekitar sanggar sebagai bagian dari upaya mengenalkan seni tradisi kepada generasi muda sekaligus menggerakkan Kampung Wisata Wayang.
Di tengah kehidupan anak-anak yang semakin lekat dengan gawai dan permainan digital, Sanggar Madhangkara menghadirkan pendekatan berbeda. Anak-anak diajak mengenal dunia wayang dan gamelan melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, serta memberi ruang bagi mereka untuk belajar dan berkreasi secara langsung.
Pelatihan ini tidak hanya menjadi persiapan menuju pementasan wayang siluet, tetapi juga menjadi ruang belajar untuk menumbuhkan ketertarikan anak-anak terhadap warisan budaya Nusantara.
Ki Cahyo Kuntadi Gunakan Pendekatan Kreatif untuk Mengenalkan Gamelan
Ki Cahyo Kuntadi, pemilik Sanggar Seni Madhangkara, memiliki cara tersendiri untuk menarik perhatian anak-anak. Ketika melihat anak-anak bermain gim di sekitar sanggar, ia mencoba memancing rasa ingin tahu mereka melalui permainan kata yang mengundang senyum.
“Saya juga memiliki game menarik, yaitu game-land (gamelan),” kata Ki Cahyo Kuntadi.
Gurauan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengenalkan gamelan kepada anak-anak. Rasa penasaran yang muncul dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mengajak mereka mencoba memainkan instrumen musik tradisional.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pengenalan budaya dapat dilakukan dengan cara yang dekat dengan dunia anak. Seni tradisi tidak harus diperkenalkan melalui penjelasan panjang, tetapi dapat dimulai dari permainan, pengalaman langsung, dan suasana belajar yang menyenangkan.
Lebih dari 50 Peserta Mengikuti Pelatihan Wayang Siluet
Pelatihan yang berlangsung sepanjang Oktober 2026 ini diikuti lebih dari 50 peserta dari lingkungan sekitar sanggar. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diperkenalkan pada pertunjukan wayang siluet yang memanfaatkan cahaya, layar, dan bayangan untuk menghadirkan tokoh-tokoh wayang.
Peserta berkesempatan mengenal bentuk visual wayang, mempelajari gerakan tokoh, serta memahami bagaimana unsur visual dapat diolah menjadi sebuah pertunjukan. Proses latihan juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas, konsentrasi, keberanian, dan kemampuan bekerja bersama.
Persiapan menyambut Hari Wayang pada November menjadi momentum untuk mempertemukan proses belajar seni dengan kesempatan tampil. Anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian dari proses pengenalan dan pelestarian budaya.
Sanggar Madhangkara Menggerakkan Kampung Wisata Wayang di Jaten
Program pelatihan ini diinisiasi oleh Ki Cahyo Kuntadi bersama Ki Gendut, dalang berijazah yang menjadi motor penggerak pengembangan Kampung Wisata Wayang di Jaten, Karanganyar.
Melalui kegiatan tersebut, Sanggar Madhangkara berupaya membangun ekosistem budaya yang tumbuh dari lingkungan masyarakat. Pelestarian wayang tidak hanya berlangsung di panggung pertunjukan, tetapi juga melalui ruang belajar yang melibatkan anak-anak sebagai generasi penerus.
Pengembangan kampung wisata berbasis budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat, aktivitas seni yang berkelanjutan, dan regenerasi pelaku budaya. Pertunjukan dapat menjadi daya tarik wisata, sedangkan pendidikan seni menjadi salah satu fondasi untuk menjaga keberlangsungan tradisi.
Mengurangi Ketergantungan Gawai melalui Kegiatan Seni
Penggunaan gawai dan permainan digital telah menjadi bagian dari keseharian banyak anak. Salah satu tantangannya adalah menyediakan kegiatan alternatif yang menarik, bermanfaat, dan mendorong interaksi secara langsung.
Melalui pelatihan wayang siluet dan pengenalan gamelan, Sanggar Madhangkara menghadirkan alternatif kegiatan yang memungkinkan anak-anak bermain sekaligus belajar. Mereka memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebaya, mencoba pengalaman baru, dan mengenal kesenian tradisional di lingkungan sendiri.
Pelatihan seni bukan sekadar upaya menjauhkan anak dari layar gawai. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperluas pengalaman belajar, menumbuhkan kreativitas, dan memperkenalkan nilai kebersamaan melalui praktik seni.
Merawat Tradisi dari Lingkungan Sendiri
Pelatihan yang melibatkan lebih dari 50 peserta tersebut menjadi bagian dari upaya Sanggar Madhangkara mengenalkan seni tradisi kepada generasi muda menjelang Hari Wayang pada November 2026.
Dari sebuah sanggar di Jaten, anak-anak memperoleh kesempatan untuk mengenal wayang dan gamelan secara langsung. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah sederhana: menyediakan ruang belajar, menghadirkan pendamping yang peduli, dan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat.
Tradisi tidak hanya bertahan karena diwariskan, tetapi juga karena terus dipelajari, dipraktikkan, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.


